Kasus Kekerasan Seksual Meningkat

Administrator Monday, 18 Desember 2017 : 15:01:40 WIB Kesejahteraan Masyarakat 0 Komentar 239 Kali
Kasus Kekerasan Seksual Meningkat

MATARAM-Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di NTB meningkat setiap tahunnya. Karenanya perlu upaya untuk menekannya.

“Kalau dibiarkan kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan ini bakal terus meningkat,” tandas Koordinator Divisi Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB Joko Jumadi.

Dia mengungkapkan berdasarkan data LPA NTB, kekerasan seksual pada tahun 2015 sebanyak 72 kasus, tahun 2016 ada 32 kasus, sedangkan hingga Oktober tahun ini kasus kekerasan seksual telah mencapai 71 kasus.

“Yang unik kami juga mencatat ada lima kasus kekerasan seksual pada pria,” jelasnya.

Meningkatnya jumlah kasus kekerasan seksual, disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, akibat perkembangan teknologi, dan tontonan yang tidak mendidik.

Terpisah, Ketua LPA Kota Mataram Nyanyu Ernawati mengatakan, di antara 70 kasus kekerasan seksual yang terjadi di NTB, sebagiannya terjadi dari Kota Mataram.

“Data terakhir yang kami himpun, ada 36 kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Mataram,” kata Nyanyu pada Lombok Post, kemarin (17/12).

Mantan anggota DPRD Kota Mataram itu menuturkan, jumlah kasus kekerasan seksual pada anak di Mataram mengalami peningkatan. Jika tahun sebelumnya ada 30 kasus, tahun ini meningkat menjadi 36 kasus. Dengan semakin meningkatnya jumlah tersebut, Nyanyu bersama LPA Kota Mataram telah berupaya untuk menekan angka tersebut.

“Salah satu satu upaya kami dengan turun ke sekolah-sekolah mengajak anak sebagai 2P (Sebagai Pelopor dan Pelapor),” tuturnya.

Selain melakukan program 2P, LPA Kota Mataram juga telah membuka hotline 24 jam. Dimana, hotline tersebut difungsikan untuk memudahkan para pelapor untuk melaporkan segala kejadian terkait kekerasan seksual yang terjadi pada dirinya.

Nyanyu menilai, adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan seksual pada anak, bisa dikarenakan dengan dua hal. Pertama, jumlah kekerasan meningkat karena banyaknya pelaporan yang masuk ke LPA. Kedua, jumlah kasus meningkat karena kekerasan seksual memang semakin kerap terjadi.

“Kami harap, peningkatan ini karena maraknya pelaporan yang masuk. Dan bukan, karena meningkatnya jumlah kasus,” ungkapnya.

Kebanyakan korban kekerasan seksual yang didata oleh LPA, rata-rata berumur di bawah 18 tahun. Pelakunya kebanyakan adalah orang-orang terdekat korban. Seperti orang tua, saudara, hingga sanak keluarga.

“Kami terus-menerus ingatkan pada masyarakat agar melakukan komunikasi yang baik pada anaknya. Jika menemukan indikasi kasus kekerasan seksual tersebut, segera melapor,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany mengatakan, peningkatan kasus itu bisa saja terjadi karena banyaknya aduan yang masuk. Sehingga membuat data kekerasan seksual menjadi meningkat.

“Orang-orang sekarang pada berani untuk melapor,” kata Dewi pada Lombok Post.

Apalagi setelah adanya program Three Ends yang dilakukan oleh DP3A Kota Mataram. Yakni menghentikan kekerasan pada perempuan dan anak, menghentikan perdagangan manusia, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi.

“Dengan adannya program Three Ends itu, kami harap angka kekerasan seksual pada anak menurun,” harapnya.

Selain itu, pihaknya juga turun ke lapangan untuk bersosialisasi. Mulai dari lingkungan, kelurahan, hingga kecamatan.

“Kami keliling untuk menyampaikan kepada mereka, bahwa kami memiliki Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A),” ungkapnya.(cr-tea/r3)

0 Komentar

Tambahkan Komentar

Recent Post

Arsip Berita